Resume Diskusi #1 [Matrikulasi Ibu Profesional]

 

Resume Diskusi #1 “Adab Menuntut Ilmu”

Pertanyaan 1

Mengenai adab terhadap sumber ilmu yang tidak mendukung kegiatan plagiator dengan tidak membeli bajakan.
Bagaimana jika kita belum mampu memiliki yang asli karena harga mahal atau stock aslinya sudah sulit dicari dan alasannya juga bukan u/ kepentingan komersil mengingat ada pemahaman ilmu yg bermanfaat akan memberi pahala yang tidak terputus ? (Pertanyaan dari Ummu Sofwa & Bu Dede)

Jawab:

Saat ini sudah banyak sistem penjualan buku berkualitas yang sangat mahal harganya bisa didaptkan dengan kemudahan mencicil atau sistem arisan. Hal ini memudahkan dan meringankan kita dalam memiliki buku sebagai sumber ilmu. Jika buku tersebut sudah tidak ada lagi dipasaran bunda dapat berusaha semaksimal mencari dan menghubungi penulis atau penerbitnya untuk diperbolehkan mencopy buku tersebut dengan catatan bukan sebagai sarana mencari keuntungan. Jalan lain saat ini banyak sekali perpustakaan2 umum yang dapat meminjamkan buku2 yang mungkin kita butuhkan sebagai sumber ilmu. Bunda dapat meminjamnya keperpustakaan umum yang tersebar…karna setidaknya setiap kotamadya memiliki 1 perpustakaan daerah

Pertanyaan 2

Untuk materi adab menuntut ilmu ini, ada beberapa pertanyaan yang ingin saya tanyakan:
1. Tidak meletakkan sembarangan atau memperlakukan sumber ilmu dalam bentuk buku ketika sedang kita pelajari
 –> batas perlakuan yang sembarangan itu seperti apa?
2. Dalam dunia online, tidak menyebarkan sumber ilmu yang diawali kalimat “copas dari grup sebelah” tanpa mencantumkan sumber ilmunya dari mana.
 –> Jika seperti kata mutiara dalam bentuk gambar yang tidak ada sumbernya, bagaimana sebaiknya?
3. Dalam dunia online, harus menerapkan “sceptical thinking” dalam menerima sebuah informasi. jangan mudah percaya sebelum kita paham sumber ilmunya, meski berita itu baik.
 –> Mohon dijelaskan dengan contoh “sceptical thinking” itu seperti apa?
#ria#

Jawab:
a. Buku tidak diletakkan dalam posisi yang mudah terinjak secara langsung.

b.Buku yg sdg dipelajari dilipat-dilipat halamannya.

c. Dan banyak lagi perbuatan lain yg selayaknya tidak kita lakukan thd sumber ilmu.

Bagi yg beragama Islam, pernah dapat ilmu kan unt tdk memperlakukan Al Qur’an dg sembarangan. Nah sejatinya di adab menuntut ilmu, hampir semua sumber ilmu harus diperlakukan dg bijak. Silakan dirasakan kalau kita pernah menulis sebuah buku, kmd buku tsb diperlakukan seenaknya oleh orang yg membacanya, pasti rasanya sakit.

Tentang istilah “Sceptical thinking” yang harus diterapkan dalam menerima sebuah informasi dari dunia online, bisa dijelaskan arti dan contohnya? (Pertanyaan dari Bu Ria)

Sceptical thinking itu maksudnya ketika kita mendapatkan suatu informasi atau berita dari media sosial, kita tidak langsung percaya, apalagi langsung membroad cast. Dalam sceptical thinking ada proses mempertanyakan, meragukan dan mengkritisi. Kemampuan ini penting agar kita tidak mudah terbawa oleh informasi-informasi yang tidak jelas sumber dan kebenarannya.

Contohnya :
Bunda ria mendapatkan broadcast atau membaca sebuah informasi dari media online ttg sebuah masjid yang menyelenggarakan sunatan masal…
Kemudian bunda percaya bahwa memang masjid tersebut menyelenggarakan kegiatan suanatan masal… Dan bunda langsung menyebarkan kembali informasi ttg sunatan masal tersebut tanpa bunda check dan recheck kebenarannya…
Yang bisa jadi berita tersebut telah berlalu kegiatannya atau tidak ada sama sekali..
🙏

Bagaimana cara cepat dan tepat memberikan penilaian pada sebuah berita sehingga layak untuk disebarkan guna memberi manfaat

ada beberapa hal yg perlu kita kuatkan dalam penerimaan dan penyebaran sebuah tulisan di sosmed :

1⃣Ketemu tulisan yg isinya baik cari sumbernya cantumkan sumber share masuk kategori berita Baik dan Benar

2⃣Ketemu tulisan yang isinya baik cari sumbernya tidak ketemu sumber STOP jangan disebar masuk kategori berita baik belum tentu benar

Yang paling aman adalah MENULIS CERITA SENDIRI BERDASAR PENGALAMAN

Hal ini menjadi info sangat valid, karena kitalah yg mengalaminya. Sehingga tak terbantahkan.

Materi lengkap hal ini ada di literasi media:

💖 LITERASI MEDIA
By: Septi Peni Wulandani

Apa sebenarnya literasi media itu? Istilah literasi media mungkin belum begitu akrab di telinga kita. Masyarakat mungkin masih terheran dan kurang paham jika ditanya apa sebenarnya literasi media tersebut. Para ahli pun memiliki konsep yang beragam tentang pengertian literasi media, McCannon mengartikan literasi media sebagai kemampuan secara efektif dan secara efesien memahami dan menggunakan komunikasi massa (Strasburger & Wilson, 2002).

Ahli lain James W Potter (2005) mendefinisikan literasi media sebagai satu perangkat perspektif dimana kita secara aktif memberdayakan diri kita sendiri dalam menafsirkan pesan-pesan yang kita terima dan bagaimana cara mengantisipasinya.

Salah satu definisi yang popular menyatakan bahwa literasi media adalah kemampuan untuk mengakses, menganalisis, mengevaluasi, dan mengkomunikasikan isi pesan media. Dari definisi itu dipahami bahwa fokus utamanya berkaitan dengan isi pesan media.

Untuk memahami definisi literasi media lebih mendalam sebaiknya dipahami pula bahwa terdapat tujuh elemen utama di dalamnya. Elemen utama di dalam literasi media adalah sebagai berikut:
1) Sebuah kesadaran akan dampak media terhadap individu dan masyarakat
2) Sebuah pemahaman akan proses komunikasi massa
3) Pengembangan strategi-strategi yang digunakan untuk menganalisis dan membahas pesan-pesan media
4) Sebuah kesadaran akan isi media sebagai ‘teks’ yang memberikan wawasan dan pengetahuan ke dalam budaya kontemporer manusia dan diri manusia sendiri
5) Peningkatan kesenangan, pemahaman dan apresiasi terhadap isi media. (Silverblatt, 1995)

Dulu jaman saya kuliah, susaaaaah banget unt dpt informasi, harus datang ke perpustakaan kota dan propinsi. Tapi sekarang di era digital anak2 dan kita kebanjiran informasi. Era broadcast semarak muncul dimana2 didasari satu hal baik yaitu ingin berbagi.
Nah bagaimana seharusnya kita menyikapi hal tsb?
1. Tidak semua berita baik itu benar, prinsip ini yg harus dipegang pertama kali
2. Telurusi unsur kebenarannya sebelum kita menyebarkan hal baik tersebut
3. Pastikan dari sumber yang terpercaya (mulai dari buku, orang yg lsg mengalami, media kredibel)
4. Hindari kalimat copas dari grup sebelah, krn ini scr implisit “bukan saya yg bertanggung jawab atas kebenaran berita ini, saya hanya menyebar saja”
5. Kuasai materi skeptikal thinking dengan baik di era banjirnya informasi ini
6. Apabila kita ingin share hasil resume sebuah grup, mohon tuntas, jangan ada bagian yang dipotong, krn resume merupakan gambaran hasil dari sebuah diskusi. Dan jangan lupa ijin dengan penulis resume tersebut.
7. Apabila ingin mereview sebuah diskusi di group sebaiknya kita kemas dg pola pemikiran dan gaya bahasa kita, tdk hanya sekedar copas hasil diskusi. Jangan lupa cantumkan sumber dengan jelas : nama group dan nama pemateri/narasumber

Salam Ibu Profesional,

/Septi Peni Wulandani/
Twitter : @septipw
FB : Septi peni wulandani
Email : septipeni@gmail.com

Pertanyaan 3

Bagaimana hukumnya klo kita menuntut ilmu, anak di titipkan ke ortu /mertua. Walaupun sudah ada kesepakatan di awal dan ortu/mertua tidak masalah klo anak di titipkan 😁
#faizah#

Jawab:
tidak masalah menitipkan anak pada orang tua/mertua bila mereka bersedia, yang penting komunikasikan dengan baik kepada mereka berdua

Pertanyaan 4

mhn penjelasan ttg adab thd sumber ilmu.point c, d, dan e.pertanyaan 1).krn kdg karna keterbasan kemudian terjadi point c tp tdk u kepentingan komersil.mengingat jg ada pemahaman bhw ilmu yg brmanfaat akan mberikn pahala yg tdk trputus walaupun sdh meninggal.mohon penjelasan
2).bgm cara cepat n tepat meberikn penilaian pd sebuah berita shg layak u dsebar, dg harapan ba mberikn manfaat pd byk org
#dede fitriyati#

Jawab:
sama jawabannya dengan pertanyaan no 2 di atas

Pertanyaan 5

Mba saya mau tanya materi adab sebelum ilmu.

Maksudnya yang poin ‘adab terhadap sumber ilmu’ poin satu bagaimana ya? Bagaimana contohnya? Terimakasih
#Ghina Sonia Fauziah#

Jawab:
Jawaban sama seperti no 2 ya bunda,

Pertanyaan 6

Berkaitan dengan point b, bagaimana cara mengatur waktu dan cara menjaga konsistensi untuk dapat mengikuti majelis ilmu (online/offline) tapi pekerjaan rumah beres, tugas beres, tetep sehat, tetep bisa main sama anak, dll
#fera#

Jawab:
Ini berkaitan dengan manajemen waktu yang nanti kita akan bahas dalam materi kita di kelas matrikulasi ini. namun intinya kita berusaha konsisten dengan komitmen kita dalam mencari ilmu. dan kita juga sebaiknya meng komunikasikan konsistensi ini dengan pasangan kita terutama untuk mendapatkan ridhonya. kemudian kita bisa komunikasikan juga kepada anak-anak kita untuk mendapatkan izin mereka juga agar dalam memperoleh ilmu kita ini dimudahkan oleh Allah SWT dan ilmu tersebut menjadi cahaya.
Agar bisa konsisten mulailah dengan satu komitmen terlebih dahulu, latih selama 30 hari pertama, konsisten atau tidak, kemudian lanjut di 30 hari kedua, dan tambahkan di 30 hari ketiga. Apabila sudah terjadi selama 90 hari konsisten, baru tambah dengan komitmen berikutnya, kalau istilah kerennya *”ONE BITE at A TIME”* (setiap satu gigitan, telan dulu, jangan buru-buru gigit makanan lagi) (Septi peni wulandani)

Pertanyaan 7

Sy ingin tanyakan maksud dari ‘memperlakukan sumber ilmu dalam bentuk buku ketika sedang dipelajari’
#mella#

Jawab:

Jawabannya hampir mirip dengan pertanyaan no. 2 ya, intinya memperlakukan sumber ilmu itu dengan baik

Pertanyaan 8

Mengenai membagi ilmu/sharing ilmu, apakah sebaiknya membagi ilmu yang telah kita amalkan saja, atau boleh sebatas ilmu yang baru saja kita baca dari buku/majelis ilmu juga boleh langsung dibagi (belum pernah diamalkan)? Terima kasih banyak sebelumnya 😊
#ismi#

Jawab:

Sebaiknya ilmu yang kita sharing adalah ilmu yang telah kita amalkan, hal ini tentu akan lebih memberikan kesan mendalam kepada orang lain. karena yang kita sharing bukan hanya hayalan semata atau teori saja jadi tidak “OMDO” (omong doang) sifatnya. sehingga ilmu tsb juga bisa dilakukan oleh orang lain

Pertanyaan 9

Mba u poin b bergegas dalam majelis ilmu kl yg offline sy sdh cb mempraktekkanya,tp kl u online sy msh blm bs ini on time Krn berbagai kegiatan yg tidak bs sy tinggalkan

Seperti saat memeriksa sampel pasien atau jam2 anak membutuhkan kita

Mohon masukan dan sarannya

Jawab:

Bergegas ini bukan semata dengan kehadiran saja, namun di online yang terpenting adalah komitmen kita terhadap ilmu yang sedang kita ambil saat ini, kesungguhannya dalam mencari ilmu tersebut, yaitu mencatat, merekap, mendiskusikannya dan melakukannya semampu kita.
serta mengikuti adab dan tata tertib dalam kelas tersebut, sebagaimana di matrikulasi ini

Pertanyaan 10

Prinsipnya overview mengenai adab menuntut ilmu tdk lah bertentangan dg sy…hanya ad hal yg poit adab pada diri sendiri point c, mengenai menuntaskan sebuah ilmu yg sdg d pelajarinya…yg sy pahami bhw kondisi saat ini ilmu begitu banyak dan tentunya kita harus mampu menyaring ilmu secara bijak yg sesuai dg syariah (menurut kacamata saya lho…krn sy seorg muslim maka parameter sy adl syariah).
Dijaman rasulullah mmg ketika turun sebuah ayat kemudian ayat tsb ditalaqi kan kpd para sahabat maka saat itu para sahabat akan berupaya terlebih dahulu memahami dan mengamalkan lalu baru berpindah kelain ilmu…akan ttp kondisinya bbd dimana saat ini pemahaman ilmu khususnya sst yg berkaitan dg syariah sdh sangat sempurna dg turunnya alquran olh krnnya sbg seorg muslim memiliki kesempurnaan ilmu itu sendiri.
Nah hal ini tentu akan mempengaruhi paradigma kita dlm berpikir, yg sdh otomatis akan mempengaruhi amal kerja kita. Sbg contoh dlm islam kita memahami fungsi dan tanggung jawab muslimah iti tdk sebatas diri kpd Allah saja sbg hambaNya…akan ttp ad fungsi sbg anak, istri, ibu, dan anggota masyarakat yaitu peran kita dlm berdakwah kpd org disekitar kita…nah dari satu fungsi sbg hamba Allah saja pastinya ad banyak hal yg harus dituntaskan…bukan kah ini akan berpengaruh kpd yg lain jk tdk diselaraskan, jika kita berkefahaman “menuntaskan ilmu kita sbg hamba Allah” nah bgmn dg fungsi dan tanggung jawab kita muslimah diperan yg lain???
Entahlah mba….mungkin sy hanya bingung saja…kalau dilihat scr global fungsi dan tanggung jawab muslimah (ilmunya dlm penerapan “menuntaskan sebuah ilmu”)
Kalau sy kok jd berpikir yasudah ilmunya sdh kita fahami semua…lalu perlahan2 menata apa yg ad d hadapan kita hingga ilmu tsb dpt diterapkan…allahu’alam
#bunda sintho#
Jawab:

Tentu banyak ilmu di dunia ini, satu sama lain saling berkaitan, seperti contohnya ilmu tentang family management yang sedang kita geluti sekarang, maka kita fokus dulu di berbagai pola-pola management seputar keluarga, seperti management menu, management keuangan, management belajar, management pendidikan anak, management resiko dll. Kemudian praktekkan dulu dan buat polanya. Sehingga ilmu-ilmu ini nanti akan memudahkan kita menapaki ilmu berikutnya seputar pendidikan anak ( di program bunda sayang) dan menjadi produktif ( di program bunda produktif)mulailah dari hal yang spesifik dulu, berdasarkan aktivitas yang kita suka dan bisa, maka dari sana muncul ilmu yang akan kita tekuni. Setelah muncul satu ilmu, akan muncul lagi turunan ilmu berikutnya.

Contoh mengambil jurusan ilmu “rekonstruksi sejarah” karena kita memang senang mempelajari masa lalu untuk masa depan, maka dari perjalanan waktu, muncullah ilmu videografi untuk mendokumentasikan perjalanan kita lintas sejarah, ilmu menulis untuk menerjemahkan pengalaman kita, dan masih banyak ilmu yang lain.
jadi kita fokus dengan satu ilmu, kemudian kita buat turunan cabang-cabang ilmu tersebut. kalau di pembelajaran persis sama ketika kita memakai konsep “project Based Learning”, tentukan dulu projectnya apa, setelah itu muncul turunan ilmu yang harus kita pelajari untuk mendukung project.

Selama ini kita sekolah, selalu ikut program paket . Kelas 1, 2, 3 materi pelajarannya sudah ditentukan apa saja, pelajari semuanya, akhirnya kita bingung mau digunakan untuk apa. (Septi Peni Wulandani)

 

@cicifera

Terimakasih sudah membaca ^^ Tulis komentar kamu di sini dan follow cicifera.com yaa~