Papa, sosok tangguh yang selalu ku rindukan…

Baca postingan di group whatsapp ibu profesional/ IIP Tangerang Kota ini bikin air mata mengalir. Pikiran dan hati terbawa ke masa-masa SMA saat papa mengantar dan melepas saya merantau sekolah di Jakarta. Saya juga termasuk tidak banyak bicara dengan papa, baru setelah menikah saya jadi lebih banyak mengobrol dengan papa. Teringat juga saat papa terkena tumor/ pembengkakan mata yang membuatnya harus berobat ke sana-sini sampai akhirnya papa bolak-balik Lampung-Bandung untuk menjalani pengobatan di RS Mata Cicendo Bandung. Untungnya saat itu saya masih kuliah di Bandung, jadi bisa menemani papa kontrol dan berobat.

Saya kutip tulisan mbak Icha dari group IIP Tangerang Kota:

*-Dengan Segala Cinta Seorang Putri pada Rajanya-*

Beberapa waktu yang lalu di timeline FB saya banyak bertebaran quotes, ucapan, foto, ataupun gambar yang isinya adalah Ucapan Hari Ayah, perayaan Fathers Day…

Fathers Day baru beberapa tahun belakangan ramai di Indonesia. Berbeda dengan Hari Ibu yang mungkin lebih familiar di sini. Walaupun Mothers Day internasional beda tanggal dengan Hari Ibu di Indonesia…

Bertahun-tahun perayaan Fathers Day ini dirayakan (yang entah siapa yang memulainya), saya termasuk golongan yang tidak merayakan. Momen Ulang tahun saja jarang dirayakan dalam tradisi keluarga kami. Biasanya hanya makan malam dan doa bersama. Apalagi hal – hal seperti ini.

Saat Fathers Day kemarin, Ucapan-ucapan indah bertaburan. Ironisnya, sebagian besar dari teman-teman yang memposting adalah justru mereka, yang ayahnya telah tiada..

Mereka… Yang menyesali karena belum sempat mengucapkan untaian kata saat ayah masih ada..

Mereka… Yang mengenang indahnya kebersamaan dengan ayah..

Menyentuh sekali..

Menggugah hati saya..

Saya dan Pap…

Rasa cinta saya pada Pap, bukan jenis cinta yang termehek-mehek mengucapkan cinta setiap hari…

Bukan pula yang bergelayut manja minta dibelikan baju baru…

Apalagi curhat cinta-cintaan anak remaja…

Bukan jenis cinta yang seperti itu…

(Tanpa mengurangi rasa hormat saya pada mereka yang jenis cintanya seperti itu)

Pap sejak dulu adalah pribadi yang tegas. Disiplin. Sangat disiplin…

Mungkin sebagian besar orangtua angkatan lahir 50-60an seperti itu. Bawaan jaman perjuangan…

Pribadi Pap yang tegas itu tentu saja berlaku juga untuk anak-anaknya…

Keputusan yang diambil jarang bisa di tawar, kecuali untuk hal-hal tertentu..

Kata-Kata cinta “I Love You, Anak-anak” pun jarang (sangat jarang) terlontar..

Suaranya yang keras (seperti tentara) lantaran besar di lingkungan tentara, membuat saya saat itu takut untuk membuka ruang diskusi..

Hal ini seolah menjadi dinding bagi kami untuk berbincang dari hati ke hati..

Komunikasi kami sekeluarga Alhamdulillah lancar. Diskusi teknis sering dilakukan. Bercanda pun sering (Walaupun galak, tapi Pap senang guyon. Kadang jayus, kadang bikin ngakak…)

Tapi memang bicara hati ke hati, momen berdua, (sangat) jarang terjadi…

Hingga tiba masanya, saya harus berpisah karena sekolah di luar kota (Pap Mam di Cilegon, saya melanjutkan SMA di Yogya)…

Disitulah momen kerinduan ini mulai muncul…

Kenangan indah saat kecil sering hadir kembali…

Pap… Yang saat adik bungsuku lahir, dan setiap orang sibuk dengan kehadiran adik baru, beliau lah yang membumbung hatiku…

Pap… Yang sering memandikan ku saat kecil. Mengajariku cara menggosok gigi yang benar itu naik turun, bukan kanan kiri…

Pap… Yang kadang menyisiri rambutku setelah mandi dengan tangan khas lelaki yang kasar…

Mengikatnya tinggi di pucuk kepala agar leherku tidak kegerahan…

Menguncir rambutku kuat-kuat agar tidak mudah lepas. Membuat mataku sipit tertarik ke belakang…

Pap… Yang menyuapiku dengan suapan besar-besar sehingga terbawa sampai sekarang kalo makan suapanku muncuk-muncuk…

Pap… Yang saat itu tengah malam. Usiaku 5 tahun mungkin (masih tinggal di Serang)

Aku tak bisa tidur sementara yang lain sudah terlelap.

Aku hanya gelisah di kamar karena kepanasan.

Lalu beliau menggendongku keluar rumah.

Membawaku ke lapangan dekat rumah.

Menyenderkan kepalaku di lehernya yang tegap.

Lalu mulai mengelus-elus punggungku sambil bersenandung pelan.

Tak peduli saat itu hanya kami berdua di luar ditemani suara jangkrik…

(Menulisnya pun sambil berkaca-kaca…)

Saat itu, Rinduku membuncah…

Dinding yang selama ini kupikir adalah penghalang, Runtuh sudah..!!!

Keputusannya yang jarang bisa di tawar, baru kusadari memang selalu benar adanya…

Kata-Kata cinta “I Love You, Anak-anak” yang jarang terlontar, baru kusadari ternyata bergelimang dalam bentuk tindakan Cinta yang Nyata…

Suara kerasnya yang saat kecil membuat ku takut, ternyata hasil bentukan lingkungan…

Beliau dibesarkan di lingkungan tentara.

Besar di Jawa Timur.

Kehidupan masa muda yang keras.

Berjuang untuk keluarga.

Bekerja di Pabrik Baja.

Kehidupannya keras. Ketangguhannya menyentakku…

Saat itulah, rasanya seperti jatuh cinta lagi…

Bukan sekedar cinta yang otomatis muncul dari anak pada ayahnya…

Lebih dari itu.

Aku jatuh cinta lagi…

Cinta yang terbangun diwaktu kami berpisah jarak…

Cinta yang terbangun saat aku menyadari uniknya “Bahasa Cinta” beliau…

Cinta yang terbangun seiring kedewasaanku…

Waktu bergulir. Sejak itu, momen aku pulang ke rumah (sekitar 6 bulan sekali, atau tiap libur semester) menjadi momen kami saling bercerita.

Aku mulai berani membuka diri untuk “curhat”.

Bahwa “galak”nya ternyata bersahabat. Seperti Mr. Carl Fredricksen di Film “UP”…

Bahwa “galak”nya ternyata siap berkorban. Seperti ayah pinguin emperor yang berjuang keras menghadapi suhu antartika selama 60 hari untuk melindungi telur-telurnya dengan cara meletakkan di kaki sambil dibungkus dengan bulunya yang hangat, yang selama melakukan tugasnya ini sang ayah tidak akan makan apapun.

Bahwa “galak”nya ternyata so sweet. Selalu menggandeng saat kami berpergian, siap melindungiku dari orang-orang yang berniat jahat…

Memasuki bangku kuliah. Saat saya drop harus menghadapi maket tugas akhir yang belum selesai menjelang sidang, saya sempat berniat pending saja, Toh masih bisa lanjut di periode selanjutnya…

Lalu saya ingat Pap dan Mam. Cita-cita saya saat itu satu, saya harus Cumlaude!!! Karena di kampus kami ada kebijakan hanya mahasiswa cumlaude yang maju ke depan bersama kedua orangtuanya. Berjalan beriringan menjabat tangan para pimpinan Universitas.

Cita-cita itu menjadi energi bagiku.

Hingga tiba saatnya, Allah memberi kesempatan itu. Saat namaku dipanggil, mengiringiku Pap dan Mam. Wajahnya bahagia. Matanya berkaca-kaca. Itulah salah satu momen dimana aku melihat beliau berkaca-kaca karena bahagia…

Berlanjut saat saya lulus kuliah, dan mulai kerja di Jakarta. Jarak kami tidak sejauh sebelumnya. Sebulan sekali saya pulang…

Semakin saya dewasa, diskusi kami semakin sering dan intens. Kami saling membuka diri. Masalah yang kami obrolkan pun mulai beragam dan kompleks…

Saat itu, cinta saya semakin besar pada beliau…

Tangisan selanjutnya adalah saat saya menikah…

Saya menikah bareng dengan kakak saya. Satu pelaminan. Bayangkan beratnya beliau saat harus melepas kedua putrinya sekaligus…

Momen bahagia pun datang silih berganti. Kami menikah, saya hamil, keguguran, drop, lalu beberapa tahun kemudian Alhamdulillah hamil lagi, dan melahirkan putri pertama kami…

Hari itu jadwal saya kontrol pasca lahiran, jadwal bayi kami kontrol pertama, sekaligus jadwal akikahnya. Acara akikah di Priok. Kami kontrol di Tangerang. Keluarga Priok mempersiapkan acara akikah. Suami ada pekerjaan di kantor yang tidak bisa ditinggal. Maka Pap dan Mam yang mendampingi kami kontrol ke RS.

Selesai semua agenda kontrol (ke dokter anak, ke dokter kandungan, tindik bayi, imunisasi) saya pamit menyusui di ruang khusus ditemani Mam. Pap menunggu di luar. Setelah selesai, kami keluar ruangan. Pap ngga ada. Kami cari ke lobby depan pun ngga ketemu. Kami ke parkiran. Terlihat Pap sedang mengguyur mobil dengan air. Ya, tadi saat berangkat memang tiba-tiba AC mobil mati. Ternyata Pap minta air ke petugas di area parkir RS dan mengguyur mobil agar bagian dalam mobil tidak terlalu panas. Kasian kalo kepanasan, ujarnya…

Hatiku gerimis…

Haru…

Bukan karena AC mobil yang mati. Tapi karena sebesar itu bentuk perhatian beliau. Saking sayangnya. Sesuatu yang mungkin sepele, yang bahkan akupun ga kepikiran. Toh diluar sedang mendung. Tapi beliau ternyata menpersiapkannya…

Beliau pula yang merangkulku erat, dan mem-pukpuk kepalaku, saat ku menghadapi babyblues, baik saat kelahiran anak pertama, kedua, maupun ketiga… (Tentu saja dukungan Abi dan Mam pun luar biasa besarnya…)

Saat kelahiran anak kedua, kami sementara tinggal di Serang sampai usia bayi kami 40 hari. Sebagai “Kakak baru”, putri kami memang terlihat bahagia. Tapi sepertinya mulai muncul juga rasa cemburu yang mungkin menyebabkannya jadi agak rewel. Yang biasanya mandiri justru jadi manja dan apa-apa maunya sama saya.

Saat itu minggu-minggu awal kelahiran putra kedua. Saya sedang begadang karena ade bayi sering terbangun malam hari karena pipinya gatal kemerahan. Siang pun saya kurang istirahat. Malam begadang. Putri kami pun rewel galau. Membuat saya kelelahan fisik dan psikis.

Tengah malam, kebetulan saat itu suami sedang di luar kota, ade bayi terbangun menangis. Tangisannya membangunkan kakaknya, sehingga ikutan rewel minta saya gendong. Saya yang sedang panik bingung, mau gendong kanan kiri, kaget karena Pap tiba-tiba masuk kamar. Beliau terbangun rupanya. Setelah menghibur ade bayi sebentar, beliau lalu membujuk kakak keluar. Membawanya ke lapangan. Menggendongnya sambil bergumam menyenandungkan kidung agar ia terlelap kembali.

Dari dalam rumah terdengar suaranya. Sambil menyusui, teringat momen sekitar 25 tahun yang lalu. Akulah yang saat itu dalam gendongannya. Di lapangan yang sama. Di dekapan yang sama. Kini putriku yang merasakan kehangatan dekapannya…

Tiga kali melahirkan, selama itu pula pap suka tiba-tiba kasih perhatian kecil seperti membelikan mix peanut setoples, khusus untuk cemilanku. Supaya ASInya lancar, katanya…

Hingga kini, sudah ada suami yang juga Hebat, sudah dikaruniai 3 anak, banyak momen indah kami lalui. Momen berat pun kami jalani. Rasa syukurku semakin bertambah….

Alhamdulillah. Segala Puji bagi Allah yang telah memberiku kesempatan untuk bisa menjadi putri beliau…

Aku yang bangga. Padanya yang punya banyak teman…

Aku yang bangga. Padanya yang selalu punya solusi…

Aku yang bangga. Padanya yang selalu tangguh…

Aku yang bangga. Padanya yang selalu berbinar saat bisa membantu orang lain…

Aku yang bangga. Sejak dulu sampai sekarang…

Aku yang bangga. Padanya yang di usia yang tak lagi muda, masih bermanfaat bagi banyak orang…

Aku yang bangga. Padanya yang setelah pensiun justru malah aktif berbagi ilmu ke berbagai penjuru, mulai dari daerah terpencil di pedalaman hutan di Kalimantan yang sangat sepi, sampai menjadi Juri Internasional di Konferensi Mutu di beberapa negara.

Kini, aku telah bertemu dengan Pangeranku. Tapi cintaku pada sang Raja, tetap akan ada selamanya…

Ya Allah. Mumpung kesempatan ini masih ada, Ijinkan aku menyampaikan pada beliau. Betapa ku sangat mencintainya. Bahkan saat ku mengenal cinta yang lain, cintaku pada beliau tetap tak kan terganti…

Ijinkan aku menyampaikan permohonan maaf.

Maaf aku bukan anak yang berlemah lembut.

Maaf jika kadang aku galak.

Maaf jika ada sikapku atau kalimatku yang melukaimu tanpa kusadari…

Ijinkan aku menyampaikan terimakasih…

Terimakasih atas segala kasih…

Atas segala ilmu…

Atas segala pengorbananmu…

Love You, Pap…

Dengan segala cinta seorang Putri pada Rajanya…

(Tulisan ini dibuat, bukan dalam rangka memperingati Fathers Day…

Melainkan sebagai pengingat.

Bahwa Cinta, perlu untuk diungkapkan…

Selagi kesempatan untuk menyampaikan itu, Masih Ada….)

-Icha Atmadi-

Putri ketiga dari ayahanda Sutrisno Atmadi

Semoga bisa menginspirasi dan mengingatkan kita adanya sosok tangguh yang berjuang untuk anak-anaknya dengan caranya 🙂

Terimakasih sudah membaca ^^ Tulis komentar kamu di sini dan follow cicifera.com yaa~