Jaga jarak, Kami ODP Covid19

Pikiranku tak karuan. Sakit rasanya membayangkan jika harus jaga jarak dengan anak-anakku, terlebih mereka masih sangat bergantung denganku. Apa-apa sama mama. Dari bangun, mandi, makan, buang air, mau tidur, semua carinya mama.

Bagaimana jadinya jika aku menjaga jarak dengan mereka? Sebenarnya masih ada papanya yang bisa membantuku, tapi bagaimana jika kami (aku dan suami) harus menjaga jarak dengan mereka?

Covid19 ini mulai mengusikku!

Sulit Tidur

Sudah jam 2 dini hari tapi mata ini belum mampu terpejam walau hari ini hari yang cukup lelah kurasa. Asisten rumah tangga (ART) yang baru sebulan bekerja, ternyata positif hamil dan kemarin memutuskan berhenti bekerja. Aku kembali lagi dengan kepadatan urusan domestikku, ditambah mengajar tk di rumah untuk anakku. 

Sulit tidur membawa pikiranku memikirkan hal-hal yang sebenarnya tak perlu aku khawatirkan. Salah satu kekhawatiranku saat ini adalah jika aku dan suamiku terkena covid19, yang mungkin akan berada di titik puncak penyebarannya di Tangerang minggu-minggu ini.

Menjadi ODP Covid19

Aku tidak pernah berfikir sebelumnya jika aku akan menjadi salah satu dari ODP Covid19 atau PDP, terlebih jika menjadi suspect atau positif Covid19. Nauzubillah min dzalik, sedih membayangkannya 🙁

Sedih karena harus jaga jarak dengan keluarga, jaga jarak dengan lingkungan dan sedih jika harus melakukan isolasi diri agar segera sembuh dan keluar dari penyakit ini.

Mungkin postingan ini berlebihan atau aku saja yang terlalu terbawa godaan setan untuk membayangkan hal-hal negatif dan berfikir kemungkinan terburuk untuk kedepannya.

Padahal belum tentu terpapar covid19 juga kaaann…

Tapi ketakutanku ini cukup beralasan. Sekitar jam 23.30 tadi, salah satu orang terdekat kami yang kami sayangi, Bapak mertuaku, dirujuk ke RSUD khusus Covid di Serang Banten. Bapak dinyatakan positif covid19 sebelum magrib.

Bapak Positif Covid19

Kami tinggal di seberang rumah mertua. Sebulan terakhir kami sering kontak dengan bapak, anak-anak juga. Bahkan sebelum pandemi ini, hampir setiap sore kami datang ke rumah mertua.

Sekitar jam 2 siang tadi, aku berada satu ruangan dengan mamah dan bapak tanpa masker. Bapak juga tidak memakai masker. Tapi saat itu tidak ada yang tahu jika beliau ternyata sudah positif, hasil swab-nya baru diinfokan menjelang magrib.

Di kamar itu aku melihat langsung bagaimana beliau batuk, aku tak pernah sebelumnya melihat beliau agak merintih. Kalau sakit biasanya bapak selalu tampak kuat dan menutupi rasa sakitnya. Batuk itu bahkan membangunkan ia dari tidurnya. Beliau batuk ke arah kiri, namun mengelus daerah rusuk bagian kanan sambil mengernyitkan dahinya.

Aku serba salah sebenarnya, ingin membantunya namun aku pun bingung membantu apa. Aku menawarkan kentang rebus tumbuk dan tahu susu goreng yang ku bawa, tapi ditolak olehnya. Beliau sempat mengeluh mual karena efek antibiotik yang sudah beberapa hari diminumnya. Kasian, beliau sudah tua, sudah 66 atau 67 usianya. 

Doakan Kami

Bantu doakan bapak mertua saya ya agar segera sembuh, sehat kembali dan cepat kembali ke rumah. Aamiin..

Semoga kami dan kita semua selalu diberi kesehatan yang baik, umur yang barokah dan keselamatan dunia akhirat, Aamiin.. Doakan kami juga ya untuk bisa survive 1-2 miggu ke depan. Kami sekarang ODP Covid19.

Semoga kita bisa melewati wabah ini dengan terus semangat.. Tetap jaga kebersihan tubuh, cuci tangan dan juga jaga jarak.

 

2 Comments

  1. Jurnal Kepompong Minggu 3

    30 September 2020 at 10:37

    […] whatsapp group yang beredar di masyarakat lingkungan rumah saya mengenai penyebab mertua saya positif covid19. Banyak orang yang mendapat informasi tanpa kroscek kebenarannya main share sana-sini dan membuat […]

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.