Jarak

Bismillah,

Sudah jam 2 dini hari tapi mata ini belum mampu terpejam walau hari ini hari yang cukup lelah kurasa. Asisten rumah tangga yang baru sebulan bekerja, ternyata positif hamil dan kemarin memutuskan berhenti bekerja. Aku kembali lagi dengan kepadatan urusan domestikku, ditambah mengajar tk di rumah untuk anakku. 

Pikiranku tak karuan. Sakit rasanya membayangkan jika harus menjaga jarak dengan anak-anakku, terlebih mereka masih sangat bergantung denganku. Apa-apa sama mama. Dari bangun, mandi, makan, buang air, mau tidur, semua carinya mama. Bagaimana jadinya jika aku menjaga jarak dengan mereka?. Sebenarnya masih ada papanya yang bisa membantu, tapi bagaimana jika kami (aku dan suami) harus menjaga jarak dengan mereka?. Hancur hatiku memikirkannya.

Salah satu ketakutanku saat ini adalah jika aku dan suamiku terkena wabah covid19 yang akan di titik puncak penyebarannya di Tangerang minggu-minggu ini (ku rasa). Aku tidak pernah berfikir sebelumnya jika aku akan menjadi salah satu dari ODP atau PDP, terlebih jika menjadi suspect atau positif, nauzubillah min dzalik, sedih membayangkannya. Sedih karena harus menjaga jarak dengan keluarga, menjaga jarak dengan lingkungan dan sedih jika harus melakukan isolasi diri agar segera sembuh dan keluar dari penyakit ini.

Mungkin postingan ini berlebihan atau aku saja yang terlalu terbawa godaan setan untuk membayangkan hal negatif dan berfikir kemungkinan terburuk untuk kedepannya xD Padahal belum tentu kena juga kaaann…

Tapi ketakutanku ini cukup beralasan. Sekitar jam 23.30 tadi, salah satu orang terdekat kami yang kami sayangi, dirujuk ke RSUD khusus Covid di Serang Banten. Sebulan terakhir kami sering kontak dengan beliau, anak-anak juga. Sekitar jam 2 siang tadi, aku berada satu ruangan dengan beliau tanpa masker, beliau juga tidak memakai masker. Tapi saat itu tidak ada yg tahu jika beliau ternyata sudah positif, hasil swab-nya baru diinfokan menjelang magrib.

Di kamar itu aku melihat langsung bagaimana beliau batuk, aku tak pernah sebelumnya melihat beliau agak merintih. Kalau sakit biasanya beliau selalu tampak kuat dan menutupi rasa sakitnya. Batuk itu bahkan membangunkan ia dari tidurnya. Beliau batuk ke arah kiri, namun mengelus daerah rusuk bagian kanan sambil mengernyitkan dahinya. Aku serba salah sebenarnya, ingin membantunya namun aku pun bingung membantu apa. Aku menawarkan kentang rebus tumbuk dan tahu susu goreng yang ku bawa, tapi ditolak olehnya. Beliau sempat mengeluh mual karena efek antibiotik yang sudah beberapa hari diminumnya. Kasian, beliau sudah tua, sudah 66-an. 

Bantu doakan beliau ya agar segera sembuh dan sehat kembali, Aamiin..

Semoga kami dan kita semua selalu diberi kesehatan yang baik, umur yang barokah dan keselamatan dunia akhirat, Aamiin.. Doakan kami juga ya untuk bisa survive 1-2 miggu ke depan.

Iya, kami sekarang ODP.

Semoga kita bisa melewati wabah ini dengan terus semangat.. Tetap jaga kebersihan tubuh, cuci tangan dan juga jaga jarak 🙂

 

1 Comment

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.