Jurnal Kupu-kupu 1: Mentor dan Mentee

Yeay, selamat datang di tahap kupu-kupu \^^\ Tahap final buncek ini adalah tahap yang panjang, kita akan melalui 8 tahap mentorship dengan media belajar adalah group dan messanger Facebook. Aku juga baru tau nih ada menu mentorship begini nih di fb group, keren jugaa.. FB juga membimbing step by step dari program mentoring ini, jadi kita lebih mudah dalam mengikuti tahapannya ^^

 

Program Mentorship Facebook

Tahapan per pekan dari program mentorship di facebook ini dapat dijabarkan seperti ini:

  • Pekan 1 = perkenalan, signup dan mencari mentor & mentee
  • Pekan 2 = skill assessment & setting goals, menentukan tujuan mentorship
  • Pekan 3 = making plan, membuat rencana dari goals yg sudah ditetapkan
  • Pekan 4 = meninjau ulang rencana, memeriksa apakah perlu penyesuaian
  • Pekan 5 = discuss progress, bagaimana kemajuan dan tantangan sejauh ini
  • Pekan 6 = keep going, terus lakukan progress nya
  • Pekan 7 = celebrate progress, merayakan kemajuan
  • Pekan 8 = program mentoship selesai, look ahead

Pekan 5,6,7 adalah pekan pelaksanaan project, sambil terus lakukan evaluasi kemajuan.

Panjang ya programnya xD 8 minggu, sekitar 2 bulan 😀 Bakal bikin project bareng sama mentor dan mentee selama 3-4 minggu.

Yuk kita mulai Jurnal 1 ini ya, task nya adalah 

  1. sign up profile as mentee/ mendaftarkan diri menjadi mentee lalu mencari mentor
  2. sign up profile as mentor/ mendaftarkan diri menjadi mentor lalu mencari mentee

 

Proses Mencari Mentor

Step pertama adalah sign up mentorship facebook, lalu membuat profile sebagai mentee. Tentukan minat apa yang ingin kita pelajari secara intensif lalu kita browsing mentor di tab “Find a mentor“. Ketik kata kunci, misal: Berbenah, nanti akan muncul pilihan beberapa mentor. Kita bisa melihat profile mereka dan start conversation. Diawali dengan perkenalan, lalu bertanya apakah beliau bisa menerima kita sebagai mentee ^^ Awalnya aku bingung mau memilih mentorship ini di bidang apa, soalnya di tahap sebelumnya (telur, kepompong, kupu-kupu) aku memilih hal yang berbeda-beda walau masih dalam cakupan mind map yg pernah ku buat. Aku memasukan beberapa keyword dan melihat-lihat mentornya, sampai akhirnya aku memutuskan untuk mengambil mentorship “Berbenah dengan metode Konmari”.

Pada dasarkan aku sangat suka berbenah. Aku melihat ayahku sebagai sosok yang rapi dan tertata, dan ini menular ke diriku. Yang aku ingat, aku semenjak SD sudah suka berbenah, rapi-rapi/ menata kamar awalnya. Dulu kalau lagi bingung mau bermain apa, aku bongkar rak buku di kamarku, lalu aku susun lagi sesuai urutan yang baru. Kalau sedang bermain monopoli, aku akan memilih untuk menjadi bank, hanya karena bank bisa menyusun uang, hehe.. Suka berbenah ini berlanjut sampai aku sma, kost, kuliah, kerja. Aku risih saat melihat sesuatu berantakan, gatel aja pengen diberesin. Tapi kadang hal ini tuh mengganggu juga. Mengganggu fokusku dari hal yang lebih penting. Misal, saat malam yang besok paginya ada ujian sekolah, aku bukannya belajar tapi malah merapikan kamar karena merasa kamarnya kurang rapi 😅 Alhasil aku kesiangan 🙈

Setelah menikah pun masih sama, benda harus diletakkan di tempatnya. Tapi kadang suami dan anak tidak kooperatif, sehingga hal ini jadi masalah. Aku kelelahan. Beres-beres teruuss.. Ada yg bilang aku OCD kerapian, tapi aku ga merasa. Mungkin aku hanya tidak tau cara mengelola hal ini, ntah ini kelebihan atau kekurangan, tapi aku yakin kalau aku tau cara mengendalikannya, InsyaAllah akan jadi hal baik 😉

Sekitar sebulan lalu aku tergerak membeli buku marie kondo yg di post mbak merien ip di status wa nya. Sudah lama sih aku dengar istilah konmari, tapi baru kali itu aku mau coba mengenalnya. Di waktu yang hampir bersamaan, aku menemukan film serial marie kondo di Netflix dan aku memutuskan untuk menonton film nya. Ternyata aku selama ini hanya merapikan, tidak mengeliminasi. Jadi barangku ya tetep aja buanyak dan berpeluang besar untuk menjadi berantakan kembali xD

Senangnya aku, aku menemukan mbak Iqiq sebagai mentor berbenahku 😎 Mentorku ini seorang pembelajar yang penuh semangat, temanku di IP Tangerang Kota. Aktivis zero waste, gemar membaca, anak kereta, suka olahraga dan clean eating ^^ Aku merasa memilih mentor yang tepat, semoga aku bisa menjadi mentee yang mudah diarahkan ya, hihi..

Profil Mentor Konmari
Profil Mentor Konmari – Iqiq IP Tangerang Kota

 

Proses Mencari Mentee

Setelah pencarian mentor beres, aku membuat profile sebagai mentor. Tentukan bidang apa yang kita sukai dan kuasai untuk diajarkan ke orang lain, menjadi mentor setidaknya bisa berbagi atau sharing mengenai suatu ilmu tertentu. Saya memilih untuk menjadi mentor blogging, khususnya belajar menulis di blog dari dasar pembuatan blog, mengatur tampilan blog, menentukan ide tulisan, keyword planning sampai membuat content plan untuk isi blog. Belum sampai tahap expert sih, masih mencari beginner. Mentornya ini suka jiper duluan kalau nemuin profile calon mentee yang sudah punya blog TLD (top level domain). Blog TLD itu yang domainnya udah pake .com .id dan lainnya itu, yang hostingnya berbayar (bukan wordpress.com atau blogger.com) 😀 Dan aku tidak menemukan mentee sampai sekarang wkwkwk..

Aku search “blog” di tab “Find someone to mentor” dan menemukan beberapa. Sudah message sekitar 8 orang, tapi ternyata mereka sudah punya mentor xD Kurang gercep ini akunya, haha.. Lalu ikut list di group buncek untuk menemukan mentee, namun belum ada yg berjodoh. Untungnya, di tahap kupu-kupu ini tidak masalah jika kita tidak mendapatkan mentee, asalkan kita memiliki mentor. Soalnya 1 mentor bisa memiliki beberapa (1-5) mentee, sedangkan 1 mentee hanya boleh mentoring ke 1 mentor saja.

Bismillah, semoga Allah mudahkan proses pembelajaran di tahap kupu-kupu ini. Semoga mentorship program ini bisa maksimal dan bermanfaat panjang untuk mentor dan mentee-nya, Aamiin..


 

Updated 2 JUNI 2020

Saat Ramadhan lalu, suami pernah bilang agar aku mengurangi fokus ke hal lain selain mengurus anak. Tampaknya suami mulai keberatan sama kegiatanku di buncek ini 🙁 Sepertinya karena aku mulai tidak menjalankan puasa gadget lagi dan video call mentoring waktu itu menjadi trigger suamiku untuk berkata begitu, hiks. Aku cerita ke suami kalau aku ambil mentoring bebenah rumah, biar aku lebih cepat dalam merapikan rumah dan lebih banyak waktu ke anak. Tak mendapat tanggapan baik, akhirnya aku berfikir, bagaimana kalau ambil mentoring tentang home education atau home schooling? Interaksi ke anak akan lebih terlihat kan? 😀 suami sepertinya menyetujui secara tersirat xD

Kecewa sih sebenernya, aku merasa mba Iqiq ini mentor yang pas untukku dan kami sudah membicarakan tujuan mentoring. Terlebih lagi dia adalah seorang pembelajar yang ilmunya banyak. Ya demi menjadi wanita yang selalu dicintai kan yaa, harus patuh 😀 Lalu setelah libur buncek kemarin, aku kembali mencari mentor dan memulai semua proses dari awal. 

Ga mau repot, aku coba search buddy ku di tahap ulat-ulat waktu itu dan mendapatkan Riani sebagai mentor Home Education dan baru memiliki 1 mentee. Kemudian aku pun mengajukan diri untuk menjadi mentee Riani juga. Perkenalkan mentor baruku:

Profil Mentor Home Education & Parenting
Profil Mentor Home Education & Parenting – Riani IP Bandung

 

Mentor Home Education - Riani
Mentor Home Education & Parenting – Riani IP Bandung

Bisa kepoin juga IG nya di @RaisingJannah ^^

Riani ini rajin bikin portofolio tentang pendidikan anaknya di rumah, mirip dengan buddy ku lainnya yaitu Aisyah dari Samkabar. Tapi ternyata mbak Aisyah mendaftar menjadi mentor Bullet Journal (bujo) bukan home education.

 

3 Comments

  1. Jurnal Kupu-kupu 2: Menentukan Tujuan - @cicifera

    9 June 2020 at 13:11

    […] bercerita bahwa aku mengubah mentorshipku dan mengganti mentor di jurnal 1 updated, kali ini aku akan bercerita tahapan selanjutnya dari mentorship home education bersama […]

  2. Jurnal Kupu-kupu 3: Membuat Rencana - @cicifera

    11 June 2020 at 17:03

    […] di jurnal 1 mendapat mentor dan di jurnal 2 membuat tujuan, di jurnal 3 ini saatnya menyusun rencana. Karena […]

  3. Jurnal Kupu-kupu 5: Diskusi Kemajuan - @cicifera

    24 June 2020 at 03:48

    […] Setelah check-in dengan mentor di Jurnal 4, di Jurnal 5 ini adalah check-in progress yaitu cek kemajuan perjalanan mentorship kita dan mendiskusikan kemajuan tersebut dengan mentor. […]

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.