Pengelolaan sampah dari kawasan dengan memilah sampah rumah tangga.

Pengelolaan sampah dari kawasan harus terus dilakukan secara konsisten agar dapat mengurangi jumlah sampah yang akan ditimbun di Tempat Pemrosesan Akhir (TPA). Apalagi berdasarkan data Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Tangerang, volume sampah di Kota Tangerang sampai saat ini terus meningkat. Selama 2020 kemarin, volume sampah mencapai 534.313 ton dengan rata-rata 1.409 ton per hari. Sangat banyak ya!

Pengelolaan sampah dari kawasan

Salah satu bentuk kepedulian kita untuk menekan jumlah sampah adalah dengan pengelolaan sampah dari kawasan. Langkah yang perlu dilakukan yaitu pemilahan sampah rumah tangga dan pengangkutan sampah terpilah dari rumah ke bank sampah atau Tempat Pembuangan Sampah (TPS) terdekat. Perlu adanya edukasi dan kesadaran diri dalam pemilahan sampah ini.

Penyampaian edukasi pengelolaan sampah bisa dilakukan dari rumah ke rumah oleh DLH Kota Tangerang yang bekerjasama dengan aparatur kawasan seperti Ketua RT/ RW, Pengurus Karang Taruna, Kader Posyandu atau pun mengajak tokoh masyarakat. Diharapkan orang-orang yang berpengaruh di kawasan tersebut dapat memberi contoh dan mengajak lebih banyak warga dalam pemilahan sampah.

Selain warga, petugas kebersihan yang mengangkut sampah juga harus diedukasi dengan baik. Pemilahan sampah ini sebenarnya juga dapat menguntungkan petugas kebersihan. Dengan sampah terpilah, sampah yang diangkut sudah terkategori dengan baik (tidak tercampur) sehingga meminimalkan bau sampah yang diangkut. Pakaian petugas kebersihan pun lebih bersih, lebih nyaman dalam bekerja dan kesehatan diri pun bisa lebih terjaga.

Di kawasan saya tinggal, sudah ada pengangkutan sampah terpilah, tapi masih dua kategori (organik dan anorganik) dalam satu kali pengangkutan sampah. Sayang hanya sedikit warga yang melakukan pemilahan sampah. Akibatnya, sebagian besar sampah akan kembali tercampur. Belum ada Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) di kawasan, masih mengirim sampah melalui truck sampah.

Banyak tukang loak yang berkeliling hampir tiap jam, terutama di pagi hari. Mereka menerima kardus, botol beling/ kaca, seng, besi, elektronik bekas dan lainnya, jadi tidak harus mengandalkan petugas kebersihan.

Memang ada patungan warga untuk menambah insentif petugas kebersihan yang dibayarkan per bulan, tapi perlu diingat kembali bahwa sampah itu adalah tanggungjawab personal masing-masing orang. Kita harus bertanggungjawab atas sampah yang kita hasilkan. Petugas kebersihan juga manusia biasa, ia hanya membantu kita untuk mengantarkan sampah kita ke bank sampah atau TPS, sudah sepantasnya kita tidak membebankan ia dengan sampah yang masih tercampur πŸ˜‰

Pemilahan Sampah Rumah Tangga

Mengikuti playdate minim sampah sekitar 2 tahun lalu, saya jadi lebih aware dengan pengurangan dan pemilahan sampah. Setelah bergabung dengan kelas gemar rapi akhir tahun 2020, saya kembali tergerak untuk memilah sampah rumah tangga di rumah. Hal ini tentunya butuh konsistensi, kepedulian dan kerjasama dari seluruh anggota keluarga agar bisa berjalan lancar secara terus-menerus.

Awalnya, saya memilah sampah organik dan anorganik dengan cara memisahkan tempat sampahnya, menyediakan wadah terpisah diberi label dan contoh gambar untuk membantu anak-anak agar terbiasa. Kemudian, saya pisahkan limbah B3 (Bahan Berbahaya dan Beracun/ Infeksius) seperti tisue, diapers, pembalut, kapas dan lainnya. Tahap selanjutnya, saya pisahkan sampah anorganik menjadi lebih spesifik.

Memilah Sampah Organik

Sampah organik atau limbah dapur adalah sampah rumah tangga yang paling sering ditemui. Dari potongan sayuran, kulit buat, daun kering yang rontok sampai sisa makanan.

Memilah sampah organik dapat dilakukan dengan cara memisahkan menjadi 2 kategori:

  • Organik Kering: potongan sayuran, kulit buah, ranting daun kering
  • Organik Basah: cangkang telur, tulang (tulang ikan/ ayam), kaldu, kuah kental, saos, madu

Setelah terpilah, lalu mau diapakan?

Lakukan pengelolaan sampah mandiri, misalnya:

  • Sisa nasi bisa dibuat makanan bebek, tulang-tulang bisa untuk makanan kucing/ anjing
  • Cangkang telur bisa diremukan untuk dijadikan pupuk
  • Sisa kulit buah dijadikan eco-enzym atau eco-cleaner
  • Sisa potongan sayur bisa ditanam kembali (regrow)
  • Bila ada lubang biopori, masukan saja semuanya. Pisahkan yang cepat terurai dan yang lebih lama terurai (tulang)
  • Kuburkan, gali lubang yang agak dalam agar tidak diacak binatang
  • Minyak Jelantah (minyak makan bekas pakai) bisa diolah kembali menjadi Sabun Mijel

Jika tidak bisa mengelola sendiri, hasil pemilahan sampah organik ini bisa disalurkan ke petugas kebersihan untuk dibawa ke TPS kawasan.

Sebaiknya kita belajar lebih kreatif dalam memasak agar bisa memakai sayuran dengan maksimal sehingga meminimkan limbah dapur. Kita juga harus membiasakan untuk mengambil makanan secukupnya dan menghabiskan makanan yang kita ambil, jangan ada sisa makanan.

Memilah Sampah Anorganik

Pemilahan ini adalah benteng terakhir sebelum diolah menjadi ecobrick. Membuat ecobrick merupakan bentuk tanggungjawab terhadap plastik yang kita gunakan. Ecobrick adalah pengelolaan sampah plastik menjadi sebuah bata. Botol plastik diisi padat dengan sampah anorganik/ non biological  sehingga dapat digunakan kembali untuk membuat blok bangunan. Benteng pertamanya adalah dengan menolak (Refuse) dan mengurangi (Reduce) penggunaan plastik.

Jika kita bisa mengurangi pemakaian plastik, kita juga akan mengurangi terjadinya sampah. Sesuai dengan konsep 8R/8i Gemar Rapi yaitu:

  1. Refuse/ hindari
  2. Reduce/ kurangi
  3. Reuse/ pakai berkali-kali
  4. Recycle/ bentuk kembali
  5. Rehome/ donasi
  6. Repurpose/ alih fungsi
  7. Replant/ tanam kembali
  8. Rot/ kembali untuk bumi

Memilah sampah anorganik dapat dilakukan dengan tahap Bersihkan-Pisahkan-Kumpulkan. Setelah dibersihkan, pisahkan sampah per kategori dan kumpulkan ke dalam wadah-wadah terpisah yang sudah kita beri label.

Apa saja kategori pemilahan sampah anorganik yang saya terapkan di rumah?

  • Kemasan Kaleng/ Seng (kaleng susu, kaleng ikan sarden, kaleng biskuit/astor)
  • Kemasan Plastik (bungkus jajanan/ cemilan, plastik minyak goreng, gelas plastik minuman, styrofoam).
  • Sampah Elektronik Rusak (baterai, charger, lampu emergency, cd/dvd)
  • Kemasan Tetra Pack (susu UHT, jus kemasan)
  • Sampah Kertas/ Kardus
  • Sampah Kaca/ Beling
  • Sampah Besi/ Logam
  • Sampah B3 (Pembalut, Diapers)

Untuk simplenya, pilah sampah yang kira-kira bisa di Reuse/ Recycle/ Repurpose. Seminggu sekali kita cek kembali wadah-wadah ini agar tidak menjadi clutter (tumpukan barang yang tidak dipakai/ tidak bermanfaat). Jika sudah cukup banyak, kita bisa mengeluarkannya dan mengirim ke bank sampah.

Tak perlu ragu untuk decluttering sampah anorganik ini. Kadang kita berfikir, “Ah simpan saja kalengnya/ botolnya, siapa tau nanti akan terpakai.” Jika benda tersebut dalam jangka waktu tertentu (misal 3-7 hari) hanya tergeletak di wadah pemilahan sampah, maka benda tersebut tidak kita perlukan, relakan saja.

Pernah juga aku berfikir,“Duh sayang ya lampu emergency nya masih bagus, tapi rusak, ga bisa nyala. Mungkin suami bisa benerin nanti.” Lalu disimpan 1-2 bulan, padahal suami tidak bisa memperbaiki xD Untuk apa disimpan? Toh masih ada barang lain yang bisa menggantikan fungsinya di rumah. Mungkin memang rezekinya tukang loak kan, kenapa ditahan-tahan? ^^

Let’s it go~ Untuk apa mengorbankan kenyamanan saat ini untuk kekhawatiran masa depan? πŸ™‚

Jadi inget perkataan fasil ku GP4K2 Bida Rachma:

Kalau tetap mau disimpan, kita sanggup merawat tidak?
Jadi jangan asal tetap di-keep trus dicuekin gitu aja.

Yg terpenting adalah kenapa kita harus musingin masa depan yg kita juga gak pernah tau apakah kita diberi kesempatan untuk nyampe ke masa tersebut. Mending fokus dengan apa yang ada saat ini.

Kalau saat ini gak dipake, mending dilepaskan supaya bisa lebih bermanfaat.

BidaRachma.com
Pengelolaan sampah dari kawasan dengan memilah sampah di rumah
Memilah Sampah Anorganik di Rumah

Pengangkutan sampah terpilah

Dua minggu lalu, ada pergantian pengurus dan ketua RT RW yang baru di tempat tinggalku. Termasuk juga pergantian petugas kebersihan yang baru. Petugas yang sekarang lebih rajin membersihkan lingkungan, menyapu jalan umum dan mengambil sampah rutin setiap pagi.

Awalnya pengelolaan sampah di kawasanku menggunakan truk sampah, langsung diambil dari masing-masing rumah dan diangkut truk sampah. Sebenenarnya truk sampah pun memilah sampah kita, jika kita menyerahkan sampah sudah dalam keadaan terpilah. Saya pernah menyerahkan sampah kardus, botol beling, botol plastik, sampah B3 dan petugas truk sampah memisahkan tempat tertentu. Tapi untuk sampah yang diberikan tidak terpilah, petugas truk sampah mencampurnya begitu saja di dalam truk.

Butuh dukungan penuh dari tiap warga untuk memilah sampah rumah tangga. Kesadaran masyarakat harus terus dipupuk. Bagaimana kita bisa mendukung zero waste city kalau kita masih tidak peduli dengan sampah kita sendiri? Mungkin butuh aturan pemerintah untuk nge-push warga agar lebih peduli dengan pemilahan sampah ini.

Zero Waste City

Zero Waste City (ZWC) atau Kota Tanpa Sampah adalah program pengembangan model pengelolaan sampah berwawasan lingkungan, berkelanjutan, dan terdesentralisasi di kawasan pemukiman yang diinisiasi oleh Mother Earth Foundation di Filipina (sumber).

YPBB mereplikasi dan menyesuaikan dengan kondisi di wilayah masing-masing sejak tahun 2017 di tiga kota, yaitu Kota Bandung, Kota Cimahi, dan Kabupaten Bandung. Program Tahun 2019, ZWC mencakup 2 wilayah Kota yang dijalankan oleh Pusat Pendidikan Lingkungan Hidup (PPLH) di Denpasar dan Pengamatan Ekologi dan Konservasi Lahan Basah (Ecoton) di Kabupaten Gresik. Saat ini, ZWC yang didampingi YPBB langsung sudah bertambah 2, yaitu Kabupaten Karawang dan Kabupaten Purwakarta.

YPBB adalah organisasi profesional nirlaba yang berlokasi di Kota Bandung yang konsisten dalam menyesuaikan dan mempraktekkan pola hidup selaras alam untuk mencapai kualitas hidup yang baik dan berkelanjutan bagi masyarakat.

Di Kota Tangerang sendiri, pemerintah sudah mendukung Zero Waste City ini. Program unggulan dari DLH Kota Tangerang adalah Sedekah Sampah Anorganik. Program sedekah sampah yang diluncurkan sejak 1 Oktober 2018 mengajak warga menyumbangkan sampah anorganik, seperti botol plastik, plastik kresek, kardus, buku, koran, jeriken, besi, tembaga, dan sebagainya.

Berikut alur penjemputan sedekah sampah anorganik Kota Tangerang:

Pengelolaan sampah dari kawasan dengan memilah sampah rumah tangga.
Alur Sedekah Sampah AnOrganik Kota Tangerang

Menurut TangerangDaily.id, hasil sedekah sampah dari warga diprorioritaskan untuk mendukung program pendidikan, kesehatan, dan bantuan social. Bahkan, pada 2019 hasil sedekah sampah disumbangkan ke Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) Kota Tangerang.

Untuk sekitaran Tangerang, akun IG berikut juga bisa kamu jadikan alternatif dalam menyetorkan sampah Anorganik:

  1. Pilah Sampah, Lokasi: The Green BSD, Serpong
  2. Ewasterj, Lokasi: The Green BSD, Serpong

Kesimpulan

Memilah sampah dari rumah dan pengangkutan sampah terpilah dapat menjadi solusi untuk pengurangan sampah ke TPA. Peran kita sebagai warga adalah menjadi pionir dalam pemilahan sampah, menularkan habit ini dalam rumah dan memberi contoh ke tetangga dan lingkungan. Hal seperti ini tidak bisa dipaksakan karena memang butuh kesadaran dan butuh dukungan juga dari pemerintah pusat maupun pemerintah daerah/ kota.

Dukungan ini bisa berupa edukasi ke warga dan petugas kebersihan. Namun, bentuk dukungan pemerintah yang utama adalah perumusan kebijakan dalam pengelolaan sampah serta penegakan hukumnya.

Di tingkat nasional, Indonesia memiliki Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2008 yang mengatur tentang pengelolaan sampah. Di tingkat kota, sebagai contoh, di Kota Bandung ada Perda Nomor 9 Tahun 2018 tentang Pengelolaan Sampah dan di Kota Tangerang ada Perda Nomor 3 Tahun 2009 Pengelolaan Sampah.

Kebijakan yang sudah ada, perlu terus didorong dan dikawal agar dapat diimplementasikan dan ditegakkan sebagaimana seharusnya demi pengurangan sampah di TPA yang signifikan. Jangan sampai kasus terjadinya Longsor di TPA Cipeucang yang menimbun sekitar dua pertiga badan Sungai Cisadane di kawasan Serpong, Tangerang Selatan, Banten, Jumat (22/5/2020) dini hari terulang kembali.

Pengelolaan sampah dari kawasan dengan memilah sampah rumah tangga.
Sumber: Kompas

35 Comments

  1. Dessy Achieriny

    15 February 2021 at 05:00

    Suamiku dulu pengurus bank sampah. Jadi kelola sampah para warga untuk bisa menghasilkan. Namun sekarang makin ke sini, warga semakin sedikit yang ikut bank sampah. Sekarang bahkan ada sedekah sampah ya di wilayah tangerang kreatif bgt

    1. Rosdiana

      16 February 2021 at 15:44

      Saya baru tahu tentang ecobrick ini, Mbak. Menarik, ya. Sepertinya dulu belum pernah dibahas di kampus (apa saya yang bolos atau tertidur saat materi ini, ya? πŸ˜…). Eh, tapi kuliah sudah 10 tahun lalu sih, pasti banyak ilmu baru sekarang.

    2. Rosdiana

      16 February 2021 at 15:53

      Eh, maaf Mbak, salah reply. Aduh, punten, maaf sekali lagi.

  2. Hartari

    15 February 2021 at 05:07

    Eman-eman alias sayang ya, kadang masih jadi alasan. Eh…wal hasil numpuk, jadi pemandangan tak sedap. Padahal bisa disedekahkan di bank sampah ya.

  3. gina

    15 February 2021 at 14:12

    di negara-negara berkembang telah dilakukan pemilah macam-macam sampah, baik sampah organik, non organik dan lainnya. Aku rasa Indonesia hrs memulai hal tersebut agar harapan menjdi zero waste city di kota-kota dpt terwujud

  4. Rahma Mulyani

    15 February 2021 at 14:17

    Waah keren ya mba.. aku terus terang belum benar2 menerapkan sampah organik dan anorganik. semoga di kemudian harΔ± aku lebin rejin memilah-milah. Thank you mba tulisannya inspiratif sekali

  5. Nurul Fitri Fatkhani

    15 February 2021 at 15:08

    Saluut, Mbak, pemilahan sampahnya benar-benar rapi. Di rumah saya baru milah sampah organik dan non organik aja. Gak sampai terperinci seperti Mbak Cici. Patut ditiru, deh!

  6. indah nuria

    15 February 2021 at 16:00

    terima kasih untuk semua tipsnya mba. Memang kita harus mulai memilah sampah sejak awal ya mba untuk mengolahnya dengan baik

  7. Demia - Beauty Blogger Bandung

    15 February 2021 at 17:00

    keren banget ya ini programnyaa, terima kasih untuk semua tipsnya yaaa, ngebantu banget nih, aku juga mau mulai memilah milah sampah lebih detil lagi ah biar ngebantu para petugas kebersihan hihi

  8. Shyntako

    15 February 2021 at 23:26

    Konsep zero waste ini harusnya dicanangkan pemerintah nih di semua kota di Indonesia, jadi setiap area pemukiman warga ada area pemilahan dan pengelolaan sampah

  9. indah nuria

    15 February 2021 at 23:42

    semoga kita bisa selalu aware dengan isu lingkungan dan pengelolaan sampah yang baik dan bijak supaya bumi dan hidup kita menjadi lebih baik

  10. Rach Alida

    16 February 2021 at 00:56

    Aku juga berusaha mba buat memiliah memilah mana sampah kering da mana sampah yang basah. Tapi di lingkungan rumah belum ada seperti ini. Jadi sampai ke truk sampah di gabungin deh. TApi ya setidaknya udah mulai usaha

  11. Linimasaade

    16 February 2021 at 03:49

    Mengedukasi banget mbak artikelnya ada beberapa istilah yang belum saya ketahui saat baca artikel ini jadi tahu. Harus sadar bahwa sampah adalah salah satu yang merusak lingkungan sekitar dan harus di kelola oleh semua pihak agar penumpukan sampah tidak terlalu besar.

  12. nurulrahma

    16 February 2021 at 04:14

    Harus dimulai dan dilakukan secara konsisten niihh, upaya memilah sampah RumTang, supaya memberikan kemudahan dan manfaat untuk aspek pengelolaan sampah.
    Aku dan keluarga juga udah berusaha melakukan ini, Kak.

  13. Rani Yulianty

    16 February 2021 at 04:44

    Mesti telaten ya memilah sampah biar lingkungan lebih terjaga, sampah jangan disatuin gitu aja, makasih ya artikelnya informatif sekali

  14. Rani Yulianty

    16 February 2021 at 04:51

    Masih belajar memilah sampah nih biar sampah bisa lebih bermanfaat dan memang mesti ada kerja sama dari seluruh anggota keluarga

  15. Bundabiya.com

    16 February 2021 at 05:10

    mba keren ini rapi banget. aku pribadi masih pe’er nih buat misahin sampah, soalnya anggota keluarga belum sepenuhnya disiplin. pada akhirnya kecampur2 jugaa huhu

  16. nyi Penengah Dewanti

    16 February 2021 at 05:51

    yang dah tak terapin misahin plastik dan sampah basah mba. tapi semoga aku bisa lebih baik dan mencontohmu Mba. Semangat zero waste

  17. Vivi Zulfiana

    16 February 2021 at 10:51

    semangat zero waste.
    aku baru pemula banget. masih belajar memahami dan praktik baru sedikit. semoga bisa konsisten dalam mengimplementasikannya. aamiin

  18. Rosdiana

    16 February 2021 at 15:46

    Saya baru tahu tentang ecobrick ini, Mbak. Menarik, ya. Sepertinya dulu belum pernah dibahas di kampus (apa saya yang bolos atau tertidur saat materi ini, ya? πŸ˜…). Eh, tapi kuliah sudah 10 tahun lalu sih, pasti banyak ilmu baru sekarang.

  19. Indah Permata Sari

    16 February 2021 at 16:51

    Wah mbaknya telaten sekali, jadi contoh yang baik ini buat masyarakat yang lain supaya mau memilah sampah mereka sendiri, karena sebenernya asal udah terbiasa jadi ga begitu berat ya mbak

  20. Dedew

    18 February 2021 at 01:08

    Seharusnya tiap wilayah kelurahan punya bank sampah sendiri ya jadi swadaya mengelola sampah sendiri. Aku sedang berusaha zero waste nih tapi memang nggak mudah ya.. semangat…

  21. Listiorini Ajeng Purvashti

    18 February 2021 at 01:42

    Kaya gini harus digalakan, apalagi di daerah pemukiman warga. Kadang sampah numpuk nggak jelas, padahal bisa dipilih-pilih ya, bisa digunakan lagi kan bagus. Selama ini aku cuma misahin sampah botol aja, suka dikumpulin dan dikasih ke yang membutuhkan~

  22. Aqmarina - The Spice To My Travel

    18 February 2021 at 07:00

    Konten yang bagus Ci, sangat informatif dan pastinya mendukung lingkungan yang bersih.
    Masih banyak sekali orang-orang yang belum tau pentingnya pengolahan sampah dan masih banyak pula orang-orang yang buang sampah sembarangan.. sedih banget..
    Dengan adanya pengertian tentang sampah dimulai dari keluarga dan lingkungan pendidikan, pasti bisa membantu kelestarian lingkungan di Indonesia ya mbak!

  23. Radiani

    18 February 2021 at 10:15

    aku juga sering ngikutin bahasan pemilahan sampah, tapi untuk praktekinnya sendiri kalo ga kebiasa ribet yaa πŸ™ˆ awal2 rasanya kagok hahahaa

  24. bening

    18 February 2021 at 12:01

    Kalau sampah kertas lebih baik langsung kasih tukang loak, ya, mbak, biar bisa didaur ulang. Hihihi suka banyak sampah kertas di rumah numpuk ini. Pengelolaan sampah gini emang harus bener2 telaten.

  25. Roswita Puji Lestari

    18 February 2021 at 12:23

    Wahhh mba hebat sekali…. Aku pernah ikut pelatihannya, tapi belum untuk penerapannya. Semoga bisa segera mengikuti jejak mbanya…^

  26. triyatni

    20 February 2021 at 16:01

    Aku fokus ke ecobrick Mbak. Itu maksudnya botol plastik bekas minum?
    Terus diisi apa saja?
    Menjadi bata bahan bangunan maksudnya benar-benar bisa digunakan?

  27. Andiyani Achmad

    20 February 2021 at 16:20

    urusan sampah ini memang sudah menjadi kewajiban bersama, mulai dari individu manusia, dalam satu lingkungan hingga negara sepantasnya menjaga bumi ini dari limbah sampah, bsia dengan memilah-milah sampah rumah tangga dan menerapkan pengelolaan sampah secara sistematis

  28. Selvijua

    22 February 2021 at 10:05

    Sebenarnya aku sempat tidak terpikirkan bagaimana cara pengelolaan sampah mandiri, dan ternyata setiap sampah rumah tangga bisa digunakan kembali dan bermanfaat. Mesti dilakukan mulai sekarang nih.

  29. Diah Alsa

    22 February 2021 at 14:12

    setuju banget ini, pemilahan sampah itu memang dibutuhkan kesadaran sendiri dari tiap individu.
    tuk saat ini, saya lagi pengen banget Mbak punya lubang biopori juga di rumah biar sampah organik (sisa makanan) bisa dicemplungin disitu ajaa.
    sama sekarang tahu di Kota saya udah ada NGO yang punya program donasi sampah, nah saya lagi kumpulin sampah-sampah sayaa jugaa biar bisa ikut donasi di tempat mereka, pengumpulannya itu tiap hari Minggu pagi.

  30. nyi Penengah Dewanti

    23 February 2021 at 01:24

    makin disadarkan akan pentingnya mengelola sampah bahkan membuatnya kembali digunakan ya Mba. Informatif banget dan sangat mengedukasi. Hepi banget aku jadi semangat untuk berusaha lebih baik.

  31. Alfa Kurnia

    23 February 2021 at 06:59

    Mengelola sampah rumah tangga ini sebenarnya gampang asal niat, ya. Saya belum bisa sih jujur aja huhuhu. Tapi minimal sudah berusaha memisahkan sampah kardus, kertas, koran dan botol plastik untuk dikasih ke pemulung.

  32. DailyRella

    23 February 2021 at 15:26

    KEREN BANGEETTT!!
    Salut buat yang berhasil mengelola sisa konsumsi rumah tangga, saya masih PR banyak di bagian plastik-plastik bekas jajanan huhuhu. Tapi untuk pengelolaan limbah lain insyaallah sedang terus diusahakan di rumah.

  33. Desy Yusnita

    13 March 2021 at 12:45

    Sebenernya aku mau memilah sampah yah, tapi sayang dilingkungan ku itu belum mendukung untuk itu. Kota Tangerang belum fokus banget untuk pengelolaan sampah sepertinya.

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.