Konflik, selalu berawal dari mulut. Ya begitu lah bagi saya. Konflik yang timbul dalam hidup saya, biasanya adalah hasil reaksi saya secara verbal terhadap sesuatu. Bisa karena mulut yang ngomong langsung, atau karena jempol yang menggantikan mulut untuk bicara di social media.

Dari urusan pekerjaan dulu, sampai urusan rumah tangga dan mendidik anak, mayoritas konflik bermula dari mulut. Saya tipe orang yang blak-blakan dan cenderung emosi (ga pikir panjang) kalau ngomong. Apa yang menurut saya benar, ya itu yang saya sampaikan. Ceplas-ceplosnya saya kadang mengganggu kenyamanan orang lain. Sebenernya sih ga ada maksud saya untuk menyakiti orang lain, tapi kadang ucapan yang keluar terlalu tajam di hati orang lain dan ucapan yang sudah keluar tidak bisa ditarik kembali.

Sepertinya belakangan ini saya jadi kurang baik dalam menyampaikan apa yang ada di pikiran saya. Saya pernah menulis salah satu konflik kecil dalam komuniasi saya dan suami di postingan saya punya pemikiran sendiri. Di tulisan itu, saya menyimpulkan bahwa jika kita dapat berkomunikasi dengan cara dan kata yang baik, maka kita bisa membatalkan terjadinya konflik.

Konflik itu walaupun kecil, kalau diabaikan bisa menimbulkan konflik-konflik baru. Kalau terjadi terus-menerus, konflik akan menumpuk. Ujung-ujungnya bakal menimbulkan penyakit hati atau saling menyakiti 🙁

Saya pernah memiliki konflik gara-gara mulut dengan salah satu teman akrab SMA saya (ya walau pun hanya akrab di kelas 1 saja sih, kelas 2-3 kami beda kelas). Teman saya ini juga blak-blakan bicaranya, perempuan, anak perantauan juga seperti saya. Suatu saat, ketika kami sedang becanda dengan seisi kelas, ditengah gurauan dia nyeletuk, “Di, masa si Fera minta gw comblangin elu sama dia, hahaha..”. Sekelompok orang tertawa lepas. Saya hanya diam. “Hmm, candaannya ga lucu deehh..”, gumam saya dalam hati. Ntah kenapa saya jadi baper dengan kalimat candaannya itu.

Konflik, Selalu Berawal Dari Mulut.

Gara-gara mulut ga kontrol saat becanda, jadi males deh sama dia -_- Saat itu memang saya sedang dekat dengan Padi, musuh tapi teman, teman tapi musuh (yes you know lah…). Tapi ya ga gitu juga kaliiii..

Kelas 2, kami pisah kelas. Teman saya jadian (pacaran). Lalu terbesit di pikiran saya, “Kok gw ga jadian juga ya? Kakak kelas ada yg deketin, LDR-an juga udah nggak.” Hmm, ternyata konflik dalam diri saya belum clear dan bahkan sudah menjadi penyakit hati (iri) karena terpendam tidak tersampaikan. Bagi dia sih ga ada konflik apa-apa, dia kan becanda~~ *rolling eyes

Kelas 2 saya jarang di kelas, eksis di luar kelas jadi tidak begitu akrab dengan anak-anak kelas. Ada perasaan malas juga sih, takut nanti kejadian lagi, merasa ditikam dengan teman sendiri. Kemudian ada teman beda jurusan yang PDKT terus-menerus dan ya udah lah ya coba jadian aja, wkwkwk..

Sebenarnya saya lebih suka aktif di organisasi. Saya jadi pengurus osis, pmr dan ikut traditional dance. Kalau ada perlombaan di sekolah lain, saya ikut maju. Ambisi saya ke arah itu, tapi ada “noise-noise” yang mengganggu (gara-gara ulah saya sendiri xD)

Dan kelas 3 saya mulai aware dengan sosok bernama Adiy (suami saya skr :”>) Sebenernya dari akhir kelas 2 sih saya mulai “ngeh” ternyata punya temen sekelas seperti Adiy. “Wah pinter yaa, bisa nulis huruf hiragana..”, awal kepeduliaan saya saat itu. Saya kagum, soalnya saya belum bisa bahasa Jepang dan senang dengan adanya ilmu baru. Dan ternyata Adiy sudah lama memperhatikan saya *ihhiiy, ge er, dududu.. iya ga sih pah? kali-kali suami baca tulisan ini :”

Eh kok melebar ini bahasannyaaa :))

Mengatasi Konflik Dalam Diri

Segera selesaikan! Sekecil apa pun konflik yang terjadi. Agak berat soalnya untuk menyelesaikan konflik yang sudah terlalu dalam.

Lalu bagaimana cara saya mengatasi konflik dalam diri?

  • Bercermin, pandangi sosok yang ada di pantulan cermin, senyum. Bila perlu, mandi dan dandan dulu gih 😀 Berfikir positif dan ucapkan hal positif dalam diri.
  • Berfikir dengan tenang dan jernih dari beberapa sudut pandang, sudut pandang dia, sudut pandang orang lain. Bayangkan.
  • Hindari asumsi. Berdamai dengan hati dan tertawakan konflik yang terjadi dalam diri. Siapa yang rugi?
  • Jika kita bisa melihat lebih dalam, setiap konflik itu hanya sebuah reaksi, dan tenang saja pasti ada solusi.

Mengatasi Konflik dengan Orang Lain

Dan bagaimana cara saya mengatasi konflik dengan orang lain?

Labrak! Haha, ga deng :p

  • Senyum, tenangkan hati, ciptakan suasana nyaman dan berfikir positif. Menerima (terima perbedaan sifat/ karakter, terima keadaan saat ini dan masa lalu).
  • Ungkapkan ganjalan dengan bahasa dan sikap yang lembut (tidak marah-marah/ emosi).
  • Bicara/ berkomunikasi dengan bahasa yang santun dan pilih kata-kata yang baik/ tidak menjatuhkan.
  • Sampaikan dan bicarakan dengan tenang. Satukan persepsi, kompromi, selesaikan (cari solusi bersama, tidak memperdalam masalahnya).
  • Dengarkan dan hargai pendapatnya, jangan menghakimi.
  • Meminta maaf dan memaafkan (+lupakan konfliknya).
  • Sabar dan bersyukur, lihat hal indah apa saja yang telah terjadi.

Note: Semua tips mengatasi konflik di atas, harus dilakukan saat perut kenyang ya! Biar lebih konsentrasi berfikir dan bicaranya, karena usus dalam perut adalah otak kedua ^^.

Semoga kita selalu dimudahkan dalam mengatasi konflik dalam diri dan konflik dengan orang lain, dan dijauhkan dari adanya penyakit hati. Aamiin..

by. @cicifera


Ditulis untuk:

Follow, Like, Share :

You might also enjoy:

41 Comments

    1. hihihi, iya nih, nikah dengan temen sma ^^ ga jauh2 wkwkwk
      iya mba, mesti hati2 menyelesaikan konflik dengan orang lain, lihat sikon dia dulu kalo mau ngajak ngomong 😀

  1. setuju aku nih ka, emang kadang kita atau orang lailn kalo ngomong ada yg suka ga di pikir dulu, tetiba ngejeplak aja dan tanpa di sadari ternyata tuh ada yg tersakiti sama kata kata yg kita lontarkan tadi

    1. nah itu, kadang maksud kita seperti apa, yang diterima orang lain berbeda.
      salah pilih kata, salah cara menyampaikan, atau salah intonasi bisa menimbulkan konflik juga :/

  2. Bener banget sih. Mulut kaya nya akar dr konflik yaaa.. kadang kita suka lupa ngontrol apa yg keluar.. bisa nyakitin atau nyinggung.. makasih saran nya mba. Bermanfaat sih. Jd ingetin biar lebih hati hati..

    1. sama-sama mba, jadi noted buat aku juga. mesti hati2 ngomong atau ngetik, mikir dulu, manfaat atau ga? penting atau ga? menyinggung orang atau ga? fakta atau ga? hehe, banyak ya mikirnya xD

  3. Mulutmu harimaumu. Iya nih masalah gue banget. Sering konflik sama orang gara2 suka ngeluarin pendapat yg belum tentu orang lain suka dengernya. Makanya aku sekarang mending diem aja drpd cari masalah. Tapi kalo soal akidah sih, aku mesti teges dong..

    1. iya aku juga skr banyak nahan diri sekarang. kalo ngikutin mau nya sih pengen aja debat, ngomong apa yang menurut aku bener. tapi ya buat apa, cape hati nantinya xD yang penting kita sudah sampaikan, hindari konflik 😀

  4. berada dalam kondisi ‘belum selesai dengan diri sendiri’ seringkali membuat diri kita kembali terjebak pada permasalahan yang berulang. Bener banget jika ditulis kita harus bisa menyelesaikan konflik dengan segera. Setiap masalah yang ada harus diselesaikan agar tidak makin menimbun diri kita dengan unfinished problems.

    1. nah itu, unfinished problem itu memberatkan hati. harus berani berfikiran terbuka, mengajak bicara diri sendiri dulu sebagai langkah awalnya, sebenernya apa sih poin konfliknya? lalu selesaikan segera.

    1. nah aku banget, haha.. kalo kesulut dikit deh langsung bla bla bla panjang :)) tapi belakangan lagi belajar nahan diri.. semoga konsisten nih menahan diri, ga meledak-ledak, cape juga euy, wkwkwk

  5. saya juga pribadi yg blak2an. kalau gak suka, langsung ngomong. gak suka bersikap sok manis biar disuka orang lain. dih! wkwkwk. tapi sejak nikah, sikap saya yg kata suami ini dianggap semaunya, diubah perlahan. bicara juga gak boleh sembarangan, mending diam daripada bakal menyakiti orang

  6. iya mbak, bener banget, menyelesaikan konflik kudu dalam keadaan otak waras, makanya perut juga kudu kenyang dulu agar kedua otak bekerja dengan baik hehe
    ternyata memelihara kesehatan perut banyak manfaatnya ya, akrena salah satunya bisa meredam konflik juga

    1. hihi, iya, maksudnya kalo perut kenyang, hati dan pikiran bisa lebih tenang jadi lebih enjoy untuk diajak bicara.
      asal jangan kekenyangan aja sih ya, bisa ngantuk bawaannya wkwkwk

    1. tergantung sikonnya mba wkwkwk.. tapi skr udah under control kok ^^
      iyaa, kalo ada konflik segera komunikasikan secara efektif agar hati tidak terbebani.

  7. Setuju kak, masalah yang dipendam trus lari ke mulut bisa menimbulkan konflik baru maka dari itu ada pepatah mulutmu harimaumu jdi kita harus pandai pandai menjaga tata bahasa kita

    1. iya, biasanya kalo memendam rasa tuh sekalinya ngomong langsung nyakitin, malah bisa nimbulin konflik baru 😀
      segera selesaikan konflik saat konflik itu belum membesar ^^

  8. Bahaya memang yah beb kalau nggak bisa kontrol ucapan.. Jaman sekarang harus makin hati-hati kalau berucap, kalau asal ngomong bisa jadi bumerang juga buat kita sendiri..

  9. mulut mu harimau mu ya mbaaa.. ee tapi sekarang, jempolmu juga bisa jadi harimau mu.. hehe..
    memang kalo bicara harus dipikir dulu ya biar gak bikin baper orang lain..

    1. iyaa, jempol dan jari2 tangan juga harus di kontrol sebelum posting xD at least baca ulang 1-2x lah sebelum di post, cek gitu pantes ga sih ngomong gitu 😀

  10. menyelesaikan konflik dengan orang lain ini memang berat, saya pernah memiliki pengalaman yang sangat tidak mengenakan di masa lalu. berusaha memaafkan tapi kalau ingat perlakuannya, masih muncul rasa sakit hati.

    1. iya mba, berat ya melupakan apa yang sudah menggores di hati 😀 kalau saya, ketika muncul lagi kenangan menyebalkan itu, saya berusaha mengalihkan.
      dulu saya sempat menuruti rasa penasaran saya, pernah saya mengalami masa kepo dengan kehidupannya lalu membalas disaat yang tepat 😀 tapi untuk apa, merasa bodoh aja saya sekarang, buang2 waktu. ya udah lah yaa.. xD

  11. Samaaa, seringnya konflik saya bermula dari reaksi saya, lebaaayyyyy hahahaha.
    Tapi jujur, reaksi tersebut hanya saya lakukan kepada beberapa orang, misal suami dan teman-teman lelaki.
    Kalau sesama wanita, waduuhh, saya milih kabuuuur, malas banget berkonflik ama wanita, panjaaangg dan lamaaa nantinya kek choki-choki hahahaha.

    Dan memang, Seiring waktu saya belajar untuk menurunkan kelebayan dalam bereaksi terhadap sesuatu, Alhamdulillah hidup jadi lebih damai 🙂

Leave A Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Enjoy this blog? Please spread the word :)